Soal Internalisasi Nilai Pancasila, Begini Penjelasan Romo Benny

1

PAPUADAILY –Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetya menyerukan agar mengamalkan sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar internalisasi nilai Pancasila bagi bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Romo Benny dalam pertemuan tentang Perumusan Fokus Bahasan Pokok-Pokok Haluan Negara Bidang Agama bersama Badan Pengkajian MPR RI di Bogor, Kamis (1/7/2021).

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Ahmad Suaedy (Peneliti Senior Abdurrahman Wahid Centre-Universitas Indonesia), Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), dan Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Acara yang diadakan secara daring dan luring bersamaan itu juga dihadiri anggota Badan Pengkajian MPR RI sebagai peserta. Pertemuan tersebut dibuka dengan pengenalan bahwa Pancasila tidak hanya berhenti pada sila pertama, tetapi harus terimplementasikan dalam semua sisi hidup manusia. “Keputusan negara haruslah memperhatikan norma negara dan tidak bertentangan. Keputusan harus bersendikan nilai-nilai ketuhanan,” kata Benny.

Menurut dia, manusia harus mendapatkan posisi, hak, dan kewajiban yang setara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ketuhanan adalah internalisasi nilai-nilai Pancasila yang dibatinkan dalam perilaku manusia. Harus menjadi inspirasi batin, alat justifikasi, titik moral kepatuhan, solidaritas dan kesetiakawanan,” tegas Romo Benny.

Benny pun menyatakan saat bangsa Indonesia melakukan internalisasi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai Pancasila akan benar-benar terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Nilai ketuhanan adalah dasar,” ujar Sekretaris Dewan Nasiobal SETARA Institute.

Menurut Benny, lewat pengamalan nilai ketuhanan, nilai-nilai lain seperti keadilan, gotong royong, dan persatuan diharapkan akan terwujud. “Gerakan gotong royong seperti Pos Layanan Terpadu (Posyandu), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dapat menjadi arus kebijakan. Namun, saat ini mulai tergerus dan hilang,” kata Romo Benny.

Dia pun menekankan bahwa demokrasi Pancasila perlu diaplikasikan secara keseluruhan di Indonesia. “Dengan melaksanakan demokrasi berlandaskan nilai Pancasila, yang berdasarkan juga pada nilai-nilai agama, dapat membebaskan dari kemiskinan, kepicikan serta membuat manusia mendapatkan pencerahan dan kedaulatannya penuh sebagai manusia. Inilah yang disebut memanusiakan manusia,” ujar Romo Benny.

Sementara itu, Nasaruddin Umar juga menyerukan Perumusan Fokus Bahasan Pokok-Pokok Haluan Negara perlu melaksanakan konsorsium yang menghadirkan para pakar dari berbagai tokoh agama. “(Kita) membicarakan visi dan misi ke depan seperti apa. Perlu diakomodir tentang definisi agama dan kenapa disebut agama dan disebut kepercayaan. Apa kriteria agama dan dasar hukumnya di mana. Hal itu perlu dibicarakan secara khusus,” ujar Nasaruddin Umar.

Pada kesempatan yang sama, Azyumardi Azra menyatakan penjelasan hubungan antaragama dan negara harus dibuat. “Pertama, penerimaan agama dan Pancasila harus diperkuat. Tidak bisa agama dan Pancasila dipisahkan dan dibedakan serta dibandingkan. Kedua, harus diperkuat lagi tentang moderasi keberagaman. Toleransi harus hidup di tengah-tengah masyarakat,” tegas Azyumardi.

Ahmad Suaedy juga mendorong implementasi nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Disiplin dan etika harus dibangun karena itu sangat diperlukan,” ujar Suaedy.