Simak Nih, Rekomendasi IDAI Soal Vaksinasi Covid-19 untuk Anak

4

PAPUADAILY –Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait pemberian vaksin Covid-19 kepada anak dan remaja.   Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum IDAI Aman Bhakti Pulungan, seperti dilansir dari Antara.

Rekomendasi pertama dari IDAI, adalah percepatan vaksinasi Covid-19 pada anak menggunakan vaksin Covid-19 inactivated buatan Sinovac.   Sebab, vaksin Sinovac sudah tersedia di Indonesia dan sudah ada uji klinis fase 1 dan 2 yang hasilnya aman dan serokonversi tinggi. Anak Kedua, berdasarkan prinsip kehati-hatian, sebaiknya imunisasi dimulai untuk umur 12–17 tahun.

Pertimbangannya adalah jumlah subjek uji klinis memadai, tingginya mobilitas dan kemungkinan berkerumun di luar rumah, dan mampu menyatakan keluhan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bila ada. Lebih lanjut, dosis 3 ug (0,5 ml), penyuntikan intra muskular di otot deltoid lengan atas, diberikan 2 kali dengan jarak 1 bulan.

Sementara itu, untuk vaksinasi Covid-19 bagi anak umur 3 -11 tahun masih menunggu hasil kajian untuk menilai keamanan dan dosis dengan jumlah subjek yang memadai. IDAI juga memberikan sejumlah kontraindikasi yang mencakup:   -Defisiensi imun primer  -Penyakit autoimun tidak terkontrol -Penyakit Sindrom Gullian Barre, mielitis transversa, acute demyelinating encephalomyelitis

-Anak kanker yang sedang menjalani kemoterapi/radioterapi

-Sedang mendapat pengobatan imunosupresan/sitostatika berat Demam 37,5 derajat Celcius atau lebih  -Sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan

-Pascaimunisasi lain kurang dari 1 bulan -Hamil -Hipertensi tidak terkendali -Diabetes melitus tidak terkendali

-Penyakit-penyakit kronik atau kelainan kongenital tidak terkendali    IDAI juga merekomendasikan agar imunisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan mematuhi panduan imunisasi dalam masa pandemi yang telah disusun oleh Kementerian Kesehatan, IDAI, dan organisasi profesi lain.

Poin ketujuh, pelaksanaan imunisasi dapat dimulai setelah mempertimbangkan kesiapan petugas kesehatan, sarana, prasarana dan masyarakat. Imunisasi bersamaan untuk semua penghuni rumah lebih baik.    Lalu, dilakukan pencatatan vaksinasi secara elektronik yang diintegrasikan dengan pencatatan vaksinasi orang tua. Terakhir adalah melakukan pemantauan kemungkinan KIPI.