Sekilas Tentang Sekolah Asrama Taruna Papua: Disini Urusan Panu Sampai Kelas Internasional Anak Papua Diperhatikan

6

PAPUADAILY – Beralaskan keramik putih dengan pulasan warna krem di dinding kemudian lengkap dengan lapangan upacara yang begitu besar, Sekolah Asrama Taruna Papua ibarat sekolah internasional di ibukota. Sejak didirikan di Papua pada tahun 2007, anak-anak suku pedalaman Papua akhirnya bisa bersekolah dan tinggal di asrama sekolah tersebut secara gratis.

“Sekolah berasrama ini adalah anak-anak berasal dari 2 suku besar tempat Freeport beroperasi yaitu suku Amungme dan Kamoro dan juga anak-anak 5 suku kerabat,” kata Wakil Kepala Perwakilan Yayasan Pendidikan Lokon Bidang Pendidikan dan Pembinaan Sekolah Asrama Taruna Papua, Oktavianus Victor Rori, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Menariknya, pilar utama sekolah ini adalah “Anak Harus Kenyang” dibandingkan “Anak Berprestasi” atau harus pintar, Victor mengatakan jika anak kenyang maka kondisi fisik bisa prima dan proses pembelajaran berhasil baik.

Sekolah tingkat SD dan SMP ini juga memiliki tenaga kesehatan dan juga staf perlindungan anak sehingga baik fisik maupun psikis, anak-anak ini bisa terlindungi.

“Sampai seperti skabies yaitu panu, kita memperhatikan anak-anak setiap hari dalam proses pembinaan. Kita bekerja sama dengan RS Timika untuk anak yang mengalami masalah kesehatan serius. Dalam menangani COVID kami melakukan screening kesehatan, selain antigen kami secara berkala melakukan medical check up,” sambung dia.

Selain soal fasilitas kesehatan, sekolah ini juga mempunyai sarana dan kurikulum yang mumpuni, seperti ekskul yang mencapai 100 jenis, lab alam, hingga kolam vektor malaria.

“Anak-anak harus memiliki daya saing global. Kami menyiapkan kelas internasional dengan Office 365. Kami akan mengantarkan anak-anak untuk berkompetisi secara global. Untuk guru SMP kami punya guru-guru dari Filipina untuk math, science dan bahasa Inggris,” sambungnya.

Siswa Menangis, Tak Mau Mandi hingga Didoakan

Sekolah dengan siswa 1.104 ini sejak 2 tahun lalu telah memiliki akreditasi A unggul. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Angga Rumende mengatakan banyak tantangan yang harus dihadapi ketika menerima anak-anak dari suku pedalaman ini.

“Tantangan menerima anak-anak pedalaman di antaranya anak yang belum tahu bahasa Indonesia, tidak pernah melihat orang berbeda warna kulit dan rambut dari mereka, itu keunikan dan jadi tantangan khusus kami,” cerita dia.

Ada juga anak yang menangis terus saat dititipkan dan belum bisa lepas dari orang tua.

“Biasanya anak yang menangis terus kita panggil orang tuanya, jadi boleh dibawa dulu, istilahnya didoakan,” lanjut Angga.

Ada pula cerita anak-anak yang ngambek dan ogah mandi sampai-sampai harus dibujuk jalan-jalan keliling kota dengan mobil.

Namun katanya, tak boleh ada anak yang tertinggal karena semua anak itu sama sehingga sering kali guru diharuskan menjadi teman dengan mengajarkan anak makan bersama, memberi perhatian, ketika sakit harus dirawat sampai sembuh. Dengan perhatian seperti ini, alhasil anak-anak emas terlahir dari asrama ini.

“Banyak yang sudah berkuliah di Semarang, Jakarta, Manado. Anak-anak kami ada yang pernah juara satu se-Papua untuk lomba tutur cerita. Kami pernah ikut Marching in Harmony dan juara 2 tingkat nasional untuk pianika,” ucapnya bangga.

Sementara itu Director Development and Community Relationship PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma mengatakan selain mendukung sekolah ini, Freeport juga telah memberikan 12 ribu beasiswa untuk anak Papua di Papua dan daerah Indonesia lainnya.

“Selain itu juga ada guru kontrak, kami membantu lewat guru kontrak kami menyediakan guru di daerah terpencil,” sebutnya.

Freeport memberikan 11.566 beasiswa sejak 1996 dan mengelola 6 Asrama. Selain itu Freeport juga membangun Institut Pertambangan Nemangkawi yang telah mendidik lebih dari 4.000 siswa (91% dari Papua) dan menyerap 2.764 lulusan untuk bekerja di Freeport.