Positif Di Tengah Pandemi, Penyaluran Pembiayaan PNM Tembus Rp 27,8 Triliun

1

PAPUADAILY –Di tengah pandemi Covid-19, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM tetap menyalurkan pembiayaan ke usaha mikro. Bahkan hingga Agustus 2021, pertumbuhan penyaluran pembiayaan PNM Mekaar tercatat naik mencapai total Rp 27,8 triliun secara yoy dibanding akhir Desember 2021 mencapai Rp 20,18 triliun.

Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mengatakan, mayoritas UMKM atau sebanyak 82,9 persen mengalami dampak negatif dari pandemi ini. Hanya sebagian kecil atau 5,9 persen dari pelaku yang justru mengalami dampak positif.

“Meski begitu, pandemi ini kita tetap positif dan mengambil banyak sekali hikmahnya. Pandemi juga membuat percepatan-percepatan yang dilakukan untuk bisa survive,” ucapnya dalam acara CEO Talk bertajuk Ketahanan Usaha Para Pelaku Usaha Subsisten di Pandemi secara virtual, Rabu (8/9/2021).

Arif mengatakan, krisis saat ini berbeda jauh dengan tahun 1998. Dampak krisis 1998 lebih besar pada sektor formal, sedangkan sektor semi formal dan informal seperti UMKM sama sekali tidak terdampak.

Namun Arif yakin, ke depan UMKM akan terus survive mengingat banyaknya stimulus yang diberikan pemerintah untuk UMKM.”Ekonomi yang membaik diharapkan bisa mendorong pembiayaan UMKM juga baik di akhir triwulan III ini,” harapnya.

Saat ini tercatat, ada 10,8 juta pelaku usaha ultra mikro yang mendapatkan bantuan pembiayaan, dan pendampingan dari PNM. Dari jumlah itu, paling banyak masih didominasi sektir usaha perdagangan 68,7 persen, pertanian perkebunan 20,4 persen, sisanya tersebar di peternakan, perikanan, kerajinan dan jasa.

Dari sebaran nasabah, Jawa masih paling banyak dengan mencapai 63,5 persen, disusul Sumatera 22,8 persen, Bali Nusa Tenggara 6,4 persen, Sulawesi 5,6 persen, Kalimantan 1,4 persen dan Maluku Papua sebesar 0,3 persen.

Dari 10,8 juta, tercatat pertumbuhan nasabah aktif PNM MEkaar 2020-2021 sebesar 10,2 juta sisanya merupakan nasabah Ulamm. Di mana dari angka tersebut sekitar 3,5 juta baru mendapatkan pembiayaan awal, 5,9 juta pembiayaan lanjutan dan sisanya sebesar 837 ribu naik kelas.

“Mayoritas pelaku usaha subsisten berasal dari masyarakat prasejahtera yang membutuhkan bimbingan dalam menjalankan usahanya agar bisa naik kelas.

PNM juga bekerjasama dengan kementerian/Lembaga/badan, NGO, BUMN dan Swasta dalam peningkatan kehidupan dan kesejahteraan nasabah,” ujar Arif.

Ke depan lanjut Arif, PNM terus mendorong digitalisasi di kalangan nasabah melalui pelatihan dan pendampingan penggunaan platform digital untuk mendorong kemajuan usaha.

Nasabah subsisten memiliki peluang untuk meraih pangsa pasar lebih luas. “Program digitalisasi unggulan PNM mencakup PaDi UMKM dan Warung Mekaar,” sebutnya.