PON Papua, Ambisi DKI Jakarta JadPON Papua, Ambisi DKI Jakarta Jadi Juara Umum i Juara Umum

4

PAPUADAILY –Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang diselenggarakan pada 2 – 15 Oktober 2021, tinggal menghitung hari. Setiap kontingen yang bertanding pasti ingin menjadi yang terbaik dalam pesta olahraga nasional terbesar tersebut, tak terkecuali bagi kontingen DKI Jakarta yang menargetkan menjadi juara umum.

Sejak penyelenggaraan PON edisi pertama di Surakarta pada 1948, DKI Jakarta merupakan provinsi yang paling banyak menjadi juara umum yaitu 11 kali.

Namun pada PON terakhir yang berlangsung di Jawa Barat tahun 2016, kontingen DKI harus puas berada di posisi ketiga dengan total torehan medali yaitu 132 emas, 124 perak, dan 118 perunggu.

Ketika itu, kontingen Jawa Barat yang menjadi tuan rumah keluar sebagai juara umum dengan 217 emas, 157 perak, 157 perunggu. Diikuti kontingen Jawa Timur di urutan kedua dengan raihan 132 emas, 138 perak, 134 perunggu.

Pandemi COVID-19 yang menghantam Indonesia sejak tahun 2020 berdampak terhadap persiapan seluruh kontingen dalam menyiapkan para atletnya untuk ajang PON XX Papua.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta pun tak menampik bahwa pandemi COVID-19 menjadi tantangan yang harus dilewati dalam meraih prestasi di ajang tersebut.

Segala persiapan terus dimatangkan oleh KONI DKI Jakarta dalam menyiapkan para atlet untuk meraih prestasi di ajang PON XX Papua di tengah kasus positif COVID-19 yang belum mereda di Ibu Kota.

KONI DKI Jakarta pun memutuskan untuk mendirikan kamp latihan atau “training camp” (TC) dengan menggunakan sistem gelembung (bubble) untuk mengkarantina  atlet yang akan bertanding.

Sekretaris Umum KONI DKI Jakarta, Djamran, mengatakan TC terpadu tersebut dilakukan oleh KONI DKI di fasilitas milik pemerintah provinsi, yakni Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta di Ragunan pada Rabu (4/8/2021).

Penyelenggaraan pelatihan terpusat itu dilakukan setelah hasil evaluasi terhadap program latihan mandiri atlet selama periode pandemi COVID-19 sejak tahun 2020.

Berdasarkan hasil evaluasi itu diketahui bahwa terjadi penurunan performa dan fisik dari para atlet kontingen DKI Jakarta sekitar 50 persen hingga berat badan yang tidak terkontrol.

Djamran menjelaskan dari 730 atlet yang disiapkan setidaknya ada 290 atlet dari sekitar 30 cabang olahraga (sisanya pelatda di luar daerah) yang diasramakan di Ragunan dengan penerapan protokol kesehatan ketat hingga saat pemberangkatan ke Papua untuk bertanding pada ajang PON.

Djamran mengatakan para atlet harus negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes PCR sebelum diizinkan masuk ke asrama untuk persiapan PON XX Papua.

Selain itu, selama menjalani karantina di PPOP Ragunan, kata Djamran, para atlet tidak diperkenankan pulang dan bertemu orang luar, bahkan pengurus KONI pun jika masuk ke lingkungan PPOP Ragunan diharuskan melakukan tes usap antigen yang dinyatakan negatif.

Seluruh kontingen DKI Jakarta juga sudah melaksanakan vaksin. Terkecuali bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan vaksin karena kondisi tertentu. Namun tetap berdasarkan rekomendasi dari tim kesehatan dan PB PON.

Dukungan Pemprov DKI

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, mengatakan menyatakan kesiapannya untuk memberangkatkan kontingen ke PON XX Papua.

Kesiapan tersebut, kata Riza, termasuk soal anggaran untuk keberangkatan kontingen DKI Jakarta menuju PON XX Papua yang sudah dianggarkan sejak tahun 2020.

Meski demikian, Riza tak menampik bahwa ada kemungkinan penyesuaian anggaran terkait dengan kondisi keuangan daerah yang terimbas COVID-19.

“Kita tahu semasa pandemi COVID-19 ini, pendapatan daerah berkurang drastis. Jadi, perlu ada penyesuaian, ‘refocusing’ dan sebagainya,” kata Ahmad Riza Patria. Dikutip ANTARA.

KONI DKI Jakarta sendiri menyebut biaya keberangkatan kontingen menuju PON XX Papua membutuhkan dana sekitar Rp70 hingga Rp80 miliar.

Jumlah anggaran yang besar itu mengingat DKI Jakarta termasuk yang paling banyak memberangkatkan kontingen yaitu sekitar 1.300 orang yang terdiri dari atlet, pelatih, asisten pelatih, ofisial, hingga tenaga pendukung seperti tenaga kesehatan, masseur (pemijat), staf administrasi, serta pengurus KONI.

Dana tersebut akan digunakan untuk biaya tiket pesawat yang minimal dibutuhkan sekitar Rp15 juta per orang untuk perjalanan pulang pergi, kemudian biaya hotel untuk tenaga pendukung sekitar 300 orang yang tidak ditanggung oleh panitia pelaksana, hingga biaya operasional selama berada di Papua.

KONI DKI Jakarta juga meyakini pelaksanaan PON XX Papua berjalan dengan lancar dan aman sesuai dengan jaminan kelancaran dan keamanan yang diberikan pemerintah dan aparat keamanan Papua.

Panitia penyelenggara PON XX Papua, menyiapkan empat klaster yakni Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke sebagai lokasi pertandingan dari 37 cabang olahraga.***