Pengabdian Kurniawan Patma pada Papua

3

Kurniawan Patma tak pernah bermimpi menetap di Papua. Setelah kuliah di sana, ia memilih mengabdikan diri bagi anak-anak pedalaman. Tak jarang ia dicurigai sebagai mata-mata, bahkan sampai dipukul. Tak mau menyerah, pria asal Tana Toraja itu malah semakin cinta Papua, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya di sana.

Tahun 2016, saat masih berstatus mahasiswa, Kurniawan memimpin puluhan temannya masuk ke pedalaman Kabupaten Keerom, tepatnya di Kampung Sawanawa. Mereka tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan ekstrakampus. Saat itu, mereka menggelar semacam kegiatan pengabdian masyarakat dengan fokus pada isu pendidikan.

Untuk mencapai kampung itu butuh waktu tiga jam lebih dari Jayapura, ibu kota Provinsi Papua. Jalur itu hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda. Kondisi jalan berupa kubangan lumpur serta beberapa sungai lebar menjadi tentangan. Sejak kampung itu berdiri, belum pernah ada pejabat, mulai dari level distrik (setingkat camat), yang berkunjung ke sana.

Mereka memilih kampung tersebut dengan alasan di sana belum dibangun sekolah, bahkan sampai hari ini. Sekolah terdekat berjarak sekitar 3 kilometer dengan kondisi medan yang sulit. Memang ada beberapa anak yang memilih sekolah di kampung lain atau ke kota, tetapi jumlahnya tidak banyak. Di kampung itu terdapat lebih kurang 50 keluarga.

Patma dan teman-teman mendapati banyak orang di kampung itu tak mengenal huruf dan angka. Berbicara bahasa Indonesia pun tidak bisa. ”Yang bisa bicara itu mungkin mereka yang sudah pernah ke kota atau mereka yang bertugas sebagai pengurus gereja,” ujar pria kelahiran Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu saat ditemui pada Rabu (3/11/2021).

Meski demikian, mereka menemukan banyak anak yang punya semangat belajar tinggi. Sejak hari pertama kegiatan dimulai, anak-anak yang biasanya ikut orangtua meramu atau berburu memilih bergabung. Juga banyak orangtua yang ingin anaknya sekolah. Mereka yang sebelumnya tak punya mimpi kini mulai berani melambungkan cita-cita. Ingin jadi guru dan dokter agar kelak mengabdi di kampung sendiri.

Setelah kegiatan selesai, Patma dan rombongan meninggalkan kampung itu. Mereka pergi dengan rasa bangga. Bangga telah mengenalkan pendidikan bagi anak-anak di sana. ”Tapi, waktu itu muncul keinginan untuk suatu ketika saya akan kembali lagi ke sana,” katanya.

Kampung dampingan

Setahun kemudian, Patma membentuk komunitas bernama LiFE. Ia memberi dua kepanjangan untuk singkatan ini, yakni Literacy For Everyone dan Library For Everyone. Ia kemudian memimpin komunitas itu masuk ke Sawanawa. Di dalam tim itu ada guru dan pelatih outbound. Selain belajar, anak-anak juga diajak bermain. Sawanawa kemudian mereka jadikan sebagai kampung dampingan pertama.

 

Selain Sawanawa, mereka juga datang ke kampung lainnya di Keerom. Kampung dimaksud adalah Ubiau dan Sawyatami. Di Ubiau terdapat gedung sekolah dasar negeri, tetapi tidak ada kegiatan belajar mengajar. Guru di sekolah itu memilih tinggal di Arso, ibu kota Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura. Sementara di Sawyatami tidak ada sekolah.

 

Dua kampung itu kemudian juga dijadikan tempat dampingan. Kini, di tiga kampung itu masing-masing sudah berdiri taman baca dengan koleksi buku hingga ratusan. Mereka juga mengaderkan anak muda di kampung untuk mengelola taman baca. Secara rutin, setiap sebulan sekali mereka datang ke tiga kampung tersebut.

 

Sebelum berangkat, mereka menyiapkan perbekalan mulai dari buku, alat permainan, makanan siap saji, pakaian, alat olahraga, generator set, laptop, hingga proyektor. Sebagian besar barang itu adalah donasi dari berbagai pihak. Selebihnya mereka menggunakan uang sendiri. Mereka tidak menerima sumbangan dalam bentuk uang. ”Lebih banyak pakai uang gaji saya,” ujar aparatur sipil negara golongan IIIB itu.

 

Mengabdi di wilayah pedalaman memang tidak mudah. Di salah satu kampung, mereka pernah ditolak. Kehadiran mereka awalnya dianggap membawa bantuan sehingga menimbulkan pro dan kontra. Ada warga yang nyaris berebut barang-barang itu. Mereka pun diusir, tetapi beruntung masih ada warga yang melindungi mereka. ”Malamnya kami putar film tentang Tuhan Yesus kemudian besok kami main bola. Mereka senang dan terima kami,” tuturnya.

 

Perjuangan mereka di wilayah pedalaman dalam lima tahun terakhir sedikit tidak memberikan hasil. Contohnya, seorang anak bernama Yacobus May yang lima tahun lalu tidak bisa membaca kini sudah lancar membaca dan menulis. Banyak orangtua dari tiga kampung itu kini mulai mengirim anak mereka untuk sekolah di kota.

 

Pedagang mikro

 

Selain di pedalaman, Patma yang sehari-hari bekerja sebagai dosen pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih itu mengoordinasi mahasiswanya untuk melakukan pendampingan bagi para pedagang mikro di Kota Jayapura. Mereka mengajarkan mama-mama Papua untuk menyusun pembukuan agar uang yang keluar dan masuk tercatat.

 

Mereka juga mengajarkan mama-mama untuk menjual barang dagangan melalui pasar daring. Salah satu adalah akun Viola Florist yang menjual tanaman hias di Facebook. Hingga kini sebanyak 43 pedagang mikro yang menjadi dampingan mereka. Pendampingan itu dimulai tahun 2019.

 

Pada saat masa kuliah kerja nyata beberapa bulan lalu, pihak kampus mengambil konsep Kurniawan itu. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih menunjuk dirinya sebagai koordinator. Mereka membuat 101 titik dampingan untuk usaha mikro yang meliputi kuliner, asesori, jasa, dan tanaman hias.

 

Menurut dia, banyak pedagang mikro di daerah itu yang belum mengelola alur keuangan dengan baik. Mereka tidak mengetahui dengan persis besaran uang yang mereka peroleh. Mereka juga kesulitan memasarkan produk mereka. Mama-mama penjual siri pinang, misalnya, membentangkan jualan mereka di trotoar. Ada juga jualan makanan di pinggiran jalan.

 

Menang tak mudah mengabdi di Tanah Papua. Perjalanan ke pedalaman selalu dihantui rasa takut oleh adanya gerakan kelompok kriminal bersenjata Organisasi Papua Merdeka. Ia yang bukan orang asli Papua kerap dituduh sebagai mata-mata. Bahkan, pada saat masih mahasiswa dulu, ia dipukul temannya. ”Biar karya yang menunjukkan bahwa Papua benar ada di hati saya. Saya di sini bukan sekadar cari makan,” ujarnya.