Peluang Emas Papua Mengejar Ketertinggalan Teknologi Pendidikan

2

Papua Daily – Pendidikan di Papua sangat tertinggal dari berbagai provinsi lain di Indonesia – baik dalam hal capaian pembelajaran siswa maupun infrastruktur digital. Dalam beberapa tahun terakhir, Indeks Pengembangan Manusia maupun Indeks Pengembangan Teknologi wilayah ini secara konsisten merupakan salah satu yang terendah di negara ini. Capaian para pelajar Papua dalam Ujian Nasional (UN) juga tetap rendah sepanjang 2017 hingga 2019.

Pada 2020, di tengah pentingnya online learning, persentase rumah tangga di Papua yang memiliki akses internet merupakan salah satu yang terendah – hanya 29,5 % dibandingkan Jakarta yang memiliki 89 %. Ini menandakan bahwa Papua kesulitan menghadapi tuntutan online learning selama krisis Covid-19. Menariknya, bisa jadi ini justru merupakan momen yang tepat untuk berinvestasi dan mengembangkan teknologi pendidikan di Papua.

Ada banyak cara supaya Papua bisa memanfaatkan momentum ini. Dari segi infrastruktur, menyediakan sambungan internet secara umum adalah tanggung jawab pemerintah. Namun, ada juga banyak peluang lain untuk menyediakan konektivitas bagi sekolah, guru, dan siswa, yakni dalam bentuk pendanaan swasta atau kemitraaan pemerintah-swasta.

Sekalipun konektivitas di Papua masih rendah, solusinya bahkan tidak harus bersifat online. Selama ini, misalnya, sudah ada beragam perangkat alternatif di luar online learning, seperti Raspberry Pi – komputer dengan ukuran sekecil kartu kredit yang awalnya didesain untuk mengajarkan ilmu komputer dasar di sekolah dan negara berkembang – yang memiliki kapasitas setidaknya 16 GB untuk menyimpan buku dan materi digital.

Ada juga peluang pendanaan swasta untuk menyediakan perangkat digital maupun bantuan teknis untuk tenaga pendidik. Misalnya, selama pembatasan aktivitas masyarakat di sepanjang pandemi, Kementerian Pendidikan (Kemendikbud-Ristek) bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi untuk memberikan dukungan data internet kepada guru di seluruh Indonesia.

Studi dari ACDP juga menyebutkan pentingnya monitoring dan evaluasi untuk memastikan berbagai perangkat dan layanan digital ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ahli pendidikan dapat membantu mengembangkan sistem pengawasan semacam ini di sekolah dan lembaga pendidikan.

Sekolah dan pemerintah daerah juga bisa melatih guru untuk menggunakan teknologi pendidikan melalui kerja sama dengan berbagai lembaga yang khusus bergerak di bidang pengembangan kapasitas guru. Bahkan sudah ada program seperti Sekolah Penggerak – yang mendorong kolaborasi antar sekolah dan guru untuk saling berbagi praktik pembelajaran yang inovatif – supaya menutup kesenjangan kualitas guru di wilayah ini.

Semua itu membutuhkan kerja keras, tapi hasilnya kelak tidak akan sia-sia. Memperbaiki infrastruktur digital dan juga kapasitas pengajar untuk menggunakannya dengan baik, akan mendorong guru dan siswa untuk bereksperimen dengan materi dan teknik belajar di luar tradisi sekolah. Sistem monitoring dan evaluasi yang baik akan mendukung kepemimpinan sekolah, dan pada akhirnnya, berujung pada proses belajar mengajar yang lebih baik.

Hanya ada dua kemungkinan setelah pandemi ini selesai, dan sangat tergantung dengan apa yang dilakukan oleh setiap pemangku kepentingan selama periode kritis ini. Pendidikan di Papua bisa mendapatkan dukungan yang baik sehingga bisa menjadi kompetitif, serta menutup ketimpangan dengan provinsi lain, atau Papua tidak mendapatkan dukungan yang baik sehingga malah semakin tertinggal. Apa pun yang dilakukan, pandemi ini adalah peluang emas untuk meninggalkan jejak perubahan yang besar bagi pendidikan di Papua.