Pak Jokowi, Masyarakat Tak Setuju Naik Pesawat Wajib PCR

2

PAPUADAILY –Pembaca detikcom dominan tidak setuju kalau naik pesawat wajib melakukan tes PCR. Mereka tidak setuju karena keberatan beban biaya yang harus dikeluarkan.

Untuk diketahui, aturan wajib PCR ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 88 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang dalam Negeri Dengan Transportasi Udara di Masa Pandemi COVID-19

Polling yang dibuka sejak kemarin pukul 12.00 WIB, mendapatkan respons dari pembaca sebanyak 170 orang. Perbandingan antara pembaca yang setuju dan tidak setuju ternyata cukup jauh.

Seperti Dikutip dari detik.com, jumlah pembaca yang tidak setuju hingga polling ditutup pukul 12.00 WIB Rabu (27/10/2021) sebanyak 134 orang. Sedangkan yang setuju hanya 36 orang.

Mereka yang tidak setuju, dominan keberatan dengan beban biaya yang harus dikeluarkan yakni tiket pesawat dan PCR yang cenderung dinilai masih mahal. Dominan juga menyoroti banyaknya masyarakat yang sudah vaksinasi.

“Dulu belum vaksin aja cuma antigen, kok sekarang udah vaksin 2x malah jadinya PCR. Ada-ada aja, sudah mahal, ribet pula,” ujar pembaca dengan nama akun H**d*** *ay*.

Pembaca lain, juga menyinggung pesawat yang sudah dilengkapi HEPA Filter untuk menyaring udara yang kurang baik. Aturan protokol kesehatan di pesawat juga dinilai sudah cukup ketat. Jadi, memang PCR dianggap membebankan biaya, karena tidak semua orang mampu.

“Cukup syaratnya, vaksin 2 kali, dan antigen. Karena di setiap maskapai /pesawat sudah dilengkapi dengan HEPA filter, yang menyaring udara yang kurang baik seperti virus, juga setiap penumpang pesawat di wajibkan menggunakan 2 lapis masker + dilarang ngobrol selama di perjalanan,” ujar h**d** r

“Saya rasa ini sudah jauh lebih dari cukup, ketimbang ditambah PCR yang memberatkan beban biaya. Perlu diingat, yang naik pesawat tidak semua orang kaya atau orang yang punya uang,” tambahnya.

Pembaca lainnya juga merasa aturan wajib PCR memberatkan orang-orang yang mengalami keadaan darurat. Karena menurutnya tidak semua orang naik pesawat tujuannya rekreasi.

“Menambah beban rakyat karena belum tentu mereka yang bepergian itu untuk rekreasi mungkin juga ada keperluan penting keluarga atau memerlukan pengobatan atau kontrol kesehatan,” ungkap j*** d**r**.

Sementara yang setuju menyoroti pemerintah yang kadang jadi serba salah. Jadi, dengan wajib PCR untuk naik pesawat maka diharapkan bisa menekan mobilitas orang.

“Saya setuju PCR, pemerintah serba salah, Kebijakan PCR diberlakukan dibilang membebani rakyat, nanti kalau kasus COVID-19 meningkat pemerintah juga disalahkan padahal rakyat juga nggak peduli, banyak yang tidak pakai masker dan banyak yang tidak peduli udah positif COVID-19 masih berkeliaran. Jadi PCR adalah hal wajib menurut saya. Kalau keberatan jangan naik pesawat. Jangan ke mana-mana. Kalau urusan pekerjaan pasti PCR ditanggung perusahaan,” tulis h*n*** o**.

Kemudian, yang setuju menyoroti soal kapasitas kursi pesawat yang sudah diperbolehkan 100%. Jadi, PCR dinilai untuk mengurangi risiko penularan dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Meski demikian, harga PCR tetap diharapkan bisa lebih terjangkau.

“Dengan dibukanya full kapasitas kursi penerbangan tentunya resiko penularan akan semakin tinggi, PCR sebagai salah satu alat screening menjadi hal paling utama untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Namun perlu didukung dengan biaya yang lebih terjangkau,” tutup da