Menghilangkan Watak Radikalisme di Masa Pandemi

1

PAPUADAILY –Bagi sebagian orang mungkin tidak paham apa yang dimaksud dengan radikalisme. Radikalisme adalah sebuah paham atau aliran yang menginginkan perubahan secara cepat dan ekstrim. Seringkali perubahan ini dilakukan dengan cara-cara kekerasan.

Awalnya, konsep radikalisme ini seringkali digunakan dalam hal politik. Namun seiring perjalanannya waktu, paham ini mulai menjalar ke semua sektor. Termasuk dalam hal keyakinan. Maraknya aksi terorisme di Indonesia ketika itu, tidak bisa dilepaskan dari paham radikalisme ini. Karena akar dari terorisme adalah radikalisme.

Sadar atau tidak, bibit radikalisme ini seringkali disebarluaskan di media sosial. Dengan berbagai cara, simpatisan radikal ini terus menyebarkan propaganda melalui media sosial. Salah satunya adalah menyebarkan kebencian secara vulgar dan masif.

Dengan berlindung dibalik pada kekebasan menyatakan pendapat, mereka mengkritik siapa saja dengan disusupkan unsur kebencian. Kritik pada dasarnya penting, tapi mereka seringkali tidak didasarkan pada informasi yang valid, bahkan seringkali didasarkan pada katanya atau hoaks.

Perilaku semacam ini terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Media sosial yang awalnya dijadikan media untuk memperkuat interaksi, kini disalahgunakan untuk menebar provokasi. Bahkan di masa pandemi sekalipun, provokasi yang sejatinya watak dari radikalisme itu sendiri, begitu masif terjadi.

Sungguh sangat ironis. Ketika semua orang sibuk harus menjaga jarak, meningkatkan imun, disiplin menerapkan protokol kesehatan agar tidak mudah terpapar virus covid-19, masih ada oknum yang menebar kebencian di media sosial.

Watak radikalisme di media sosial tersebut harus dihilangkan. Pandemi seperti sekarang ini membutuhkan semangat gotong royong, semangat saling menguatkan, dan semangat saling peduli antar sesama. Dengan membangun semangat tersebut diharapkan bisa saling menjaga harapan dan optimisme. Karena pandemi ini telah memberikan dampak negatif kepada siapa saja. Bahkan turunnya perekonomian saat ini juga disebabkan oleh pandemi covid-19.

Sekarang ini, banyak masyarakat yang secara sengaja menebar provokasi untuk memprotes kebijakan ppkm darurat. Pembatasan ini dianggap merugikan masyarakat yang tidak bisa mendapatkan penghasilan.

Bahkan, elemen mahasiswa pun juga tidak banyak belajar dari pengalaman sebelumnya. Sempat ada rencana unjuk rasa besar-besaran untuk menentang kebijakan ppkm darurat ini. Ujung-ujungnya, oknum elit politik banyak yang menungganginya untuk kepentingan 2024.

Kenapa bisa? Disaat pandemi seperti sekarang ini sebagian orang sibuk menebar kebencian, lalu sebagian sibuk mendapatkan kekuasaan, atau sibuk mewujudkan kepentingannya masing-masing. Mari kita jadikan semangat idul kurban ini, untuk menghilangkan atau menyembelih bibit radikalisme yang mungkin masih ada dalam diri kita.

Dengan semangat kurban, mari kita kurbankan ego dalam diri agar tidak merasa paling benar, merasa orang lain sebagai pihak yang salah. Rasa saling benar dan menutup pendangan orang lain bagian dari watak radikalisme.

Mari saling bergandengan tangan untuk menguatkan watak toleransi, tepo seliro, tenggang rasa antar sesama. Ingat, propanda radikalisme di masa pandemi tidak berhenti. Pembatasan di dunia nyata banyak digunakan masyarakat lari ke dunia maya. Jika tingkat literasinya masih rendah, tidak sedikit dari masyarakat yang terkontaminasi dan terprovokasi radikalisme. Salam.