Mengenal Cara Berburu Masyarakat Kampung Abar

2

PAPUADAILY –Masyarakat Kampung Abar dikenal sebagai kampung penghasil gerabah yang masih eksis di Papua. Hampir sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah berburu.

Kampung Abar terletak di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Lokasinya tidak jauh dari Bandara Sentani. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga masih mengenal tradisi berburu tradisional

Berburu dilakukan oleh laki-laki Abar. Binatang yang menjadi target perburuan yaitu rusa, biawak, kuskus, kanguru, tikus tanah, babi hutan dan beberapa jenis burung.

Biasanya dalam berburu, masyarakat Abar dibantu oleh anjing yang dilatih khusus untuk mengejar binatang buruan. Bila sudah terkepung, binatang akan dibidik dengan panah atau tombak.

Satu kelompok pemburu Kampung Abar biasanya terdiri dari empat atau lima orang. Sedangkan berburu dengan memasang jerat dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Jerat digunakan untuk menangkap binatang dalam kondisi hidup, misalnya kanguru, tikus tanah atau burung. Sebagai umpan biasanya Kampung Abar menggunakan kelapa kering.

Jerat dipasang di hutan atau sabana yang jauh dari pemukiman Kampung Abar. Jerat dipasang pada sore hari, kemudian dicek keesokan harinya. Jika lewat dari itu, binatang yang terjerat dapat dipastikan akan mati.

Dalam berburu babi, jika mendapatkan anak babi, maka anak babi akan dibawa ke Kampung Abar untuk dipelihara. Pada masa lalu, pemburu Abar percaya pada kekuatan magis, misalnya mengucapkan mantera tertentu untuk memberkati setiap alat berburu agar mendapatkan hasil buruan yang banyak.

Hasil buruan akan dijual di Pasar Lama Sentani pada sore hari. Untuk satu ekor kuskus dihargai Rp300.000 hingga Rp500.000. Namun sayangnya perburuan itu dapat mengancam kelestarian satwa endemik, seperti kanguru, kuskus dan berbagai jenis burung lainnya.

Perlu dilakukan sosialisasi dan kampaye di Kampung Abar. Kegiatan ini untuk mengajak kepedulian semua pihak dalam menjaga kelestarian fauna endemik Papua.