Mengembangkan Destinasi Wisata Lewat Pembiayaan Digital

0

PAPUADAILY –Pandemi COVID-19 yang membatasi mobilitas masyarakat tentu sangat berdampak pada keberlangsungan sektor pariwisata di Tanah Air. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno mengakui kalau sektor pariwisata mengalami masa yang berat selama pandemi COVID-19

Agar sektor pariwisata tetap bertahan dan tetap berkontribusi terhadap perekonomian nasional, Kemenparekraf meluncurkan program 5 destinasi wisata super prioritas.

Ini merupakan bagian dari program 10 Bali Baru yang dicanangkan pemerintah. Nantinya destinasi-destinasi tersebut tak hanya dapat menjadi daya tarik wisatawan saja, namun juga menumbuhkan ekonomi kreatif yang bisa dinikmati warga setempat.

Detinasi wisata super prioritas tersebut adalah Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur; Mandalika, Nusa Tenggara Barat; Danau Toba, Sumatera Utara; Likupang, Sulawesi Utara dan Borobudur, Jawa Tengah. Pemerintah menargetkan penyelesaian 5 destinasi wisata tersebut rampung pada akhir 2021 setelah sebelumnya sempat mundur dari rencana awal yang ditargetkan selesai pada akhir 2020.

Tempat-tempat yang memiliki keunikan tersendiri itu, menargetkan turis domestik sebagai sasarannya. Menparekraf Sandi menyebutkan ada Rp150 triliun dana yang teralokasi oleh wisatawan nusantara untuk berwisata ke luar negeri.

Melalui kehadiran 5 destinasi super prioritas yang baru dengan kawasan strategis pariwisata nasional, pemerintah berharap bisa mengambil peluang atau realokasi dari sebagian dana masyarakat yang habis untuk berwisata di luar negeri.

Format pariwisata yang dihadirkan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif pun diubah dengan mengusung konsep personalized, customized, localize, dan smaller sizePersonalized berarti wisatanya bersifat pribadi atau terbatas untuk keluarga.

Customized berarti para pelaku pariwisata menyiapkan wisata yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan seperti alam hijau terbuka, pantai, atau bahkan menyiapkan pengalaman budaya lokal lewat desa wisata.

Localized artinya wisata yang disiapkan untuk masyarakat domestik bisa dihadirkan tanpa jarak yang jauh atau dekat dari rumah. Serta yang terakhir adalah Smaller Size, artinya tempat wisata tidak menampung terlalu banyak orang sehingga dapat menjadi lebih longgar dan luas untuk dieksplorasi.

“Para pelaku wisata lokal mereka ini fokus menyediakan wisata untuk wisatawan yang berbasis kesehatan dan keselamatan. Saya yakin wisatawan nusatara akan kembali jumlahnya dan dengan ditingkatkannya sertifikasi CHSE. Akan kami gaspol sehingga 34 juta pelaku ekonomi kreatif bukan hanya bisa bertahan tapi mampu menangkap peluang jadi pemenang,” kata Menparekraf Sandiaga.

Salah satu dari 5 destinasi wisata super prioritas tersebut yakni Likupang diinisiasi menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Memiliki luas 197,4 hektare, KEK ini dibangun di Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara.

Dengan jarak tempuh dua jam perjalanan mobil dari Manado, terdapat banyak pantai-pantai dengan pasir putih yang dapat menjadi pilihan di Likupang yakni Pantai dan Bukit Pulisan, Pantai Paal dan Pantai Pulisan. Kawasan ini juga dekat dengan Pulau Lihaga dan Pulau Gangga yang menjadi tempat snorkeling atau menyelam. Belum lagi Pantai Likupang yang memiliki spesies langka penyu hijau. Di sana juga menjadi habitat Burung Maleo dan Makaka Hitam.

Tak hanya punya alam yang menarik untuk jadi wisata olahraga serta wisata bahari, penyuka makanan lezat juga bisa bersenang-senang di kawasan ini karena banyak pilihan makanan yang bisa dicicipi. Mulai dari ayam rica-rica, ikan woku, berbagai jenis olahan ikan lainnya hingga bubur tinutuan yang mengenyangkan karena berisi aneka sayur seperti bayam, kangkung, kemangi, ubi, labu hingga pipilan jagung.

Ada pula pisang goroho yang serupa keripik pisang dan dicocol dengan sambal roa, bisa disantap bersama secangkir kopi atau teh. Wisatawan juga bisa menikmati kudapan serupa pastel bernama panada, terdiri dari roti goreng dengan isian suwiran ikan cakalang.