Limbah Freeport Dapat Tumbuhkan Terong dan Jadi Batako, Kok Bisa?

23
Limbah Freeport Dapat Tumbuhkan Terong dan Jadi Batako, Kok Bisa?

Tambang selalu identik dengan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Namun belakangan, industri pertambangan kian sadar pentingnya green mining atau tambang yang tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.

Sehingga sedapat mungkin, limbah-limbah hasil tambang tersebut kini mulai didaur ulang menjadi material yang bermanfaat. PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi salah satu perusahaan tambang yang memanfaatkan pembuangan sisa pasir tambang atau tailing menjadi media tanam berbagai tanaman hidroponik.

“MP-21 adalah pusat penelitian yang didirikan Freeport untuk mengelola tailing dari sisi ekologi, apakah berdampak bagi kehidupan. Kami melakukan 3 hal di tailing bagaimana menumbuhkan tanaman, yang kedua harus bisa berbuah dan ketiga aman dikonsumsi manusia,” kata Robeth Sarwom selaku General Superintendent Reclamation and Biodiversity PTFI kepada detikcom di kawasan MP-21, Timika, Papua beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Robeth menjelaskan banyak yang awalnya mempertanyakan apa bisa tanaman hidup di atas tailing? Faktanya sudah berhektare-hektare tanaman di sini mampu tumbuh dan berbuah, seperti tomat, melon, terong, hingga nanas.

Robeth mengatakan bahkan buah dari tanaman tersebut memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah. Tanaman tersebut pun tidak memerlukan treatment khusus hanya diberi tambahan pupuk kompos.

Selain membuktikan, buah dan sayur dapat tumbuh, berbuah dan aman dikonsumsi, tailing juga nyatanya mampu menjadi media tempat hidup ikan bahkan sapi.

 

“Ikan dan sapi membuktikannya, sapi makan rumput di sini dan ikan juga demikian minum dari air ini. Lahan tailing ini tidak bermasalah sapi mengonsumsi rumput membuktikan akumulasi di sini semua masih berada di ambang batas aman” tambah dia.

 

Selain fokus terhadap pengelolaan tailing sebagai media tanam dan hidup ikan dan sapi, kawasan seluas 100 ha ini juga mempunyai kandang untuk pemeliharaan satwa endemik yang dilindungi.Dengan lahan penuh tailing setebal 7 meter ini, Robeth mengatakan banyak juga tumbuhan liar yang hidup tanpa diberi pupuk khusus atau di siram.

 

Satwa ini hasil dari selundupan yang telah diamankan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang hendak dilepasliarkan kembali. Salah satu hewan endemik yang ada di MP-21 adalah kura-kura moncong babi. Selain itu, tempat ini juga menjadi konservasi bagi kupu-kupu langka seperti, Ornithoptera Priamus.

 

Sementara itu, Freeport di MP-21 juga mempekerjakan 7 suku di area tambang, seperti suku Kamoro dan Amungme. Selain menjadi wujud tanggung jawab sosial, hal ini juga dimaksudkan untuk memupuk kemandirian warga asli Papua.

 

TAILING UNTUK INFASTRUKTUR

 

Selain dimanfaatkan untuk pertanian, Freeport juga mendayagunakan tailing atau limbah tambang tersebut untuk membangun jalan dan gedung.

 

Sastro Siburian selaku Superintendent Tailings Utilization mengatakan Freeport juga memproduksi batako, paving block, ready mix hingga aspal filter. Beberapa ruas jalan di Timika diklaim menggunakan bahan tersebut, termasuk kantor bupati. Sastro mengatakan per hari ada 4 ton paving block yang diproduksi dengan 10 ton tailing.

 

“Sekarang trennya green mining bagaimana semangat KLHK bisa terwujud di Indonesia. Tambang itu terkenal merusak lingkungan image itu kita mau ubah, tambang juga bisa memperhatikan lingkungan dan menggunakan sisa produknya yang menunjang kehidupan masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.