Konsisten dan Berani Ambil Peluang, Dua Pengusaha Lokal Papua Ini Berhasil Naik Kelas!

5

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) adalah salah satu motor penggerak utama ekonomi nasional. Di samping itu, mereka juga memiliki daya untuk mengubah potensi daerah tempat tinggalnya jadi produk yang bernilai.

Ambil contoh di Papua, provinsi yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya. Masyarakat Papua kerap kali mengembangkan potensi tersebut jadi peluang bisnis. Seperti yang dilakukan oleh pengusaha kerajinan lokal Petronela Meraudje dan Alberthus Wanggai, penjual ikan Asar asal Jayapura.

Berbekal pengalaman dan kepiawaian melirik peluang, mereka berhasil berkembang dengan memanfaatkan berbagai peluang bisnis yang ada. 

Petronela Meraudje, misalnya, telah menjalankan usaha kerajinannya mulai dari nol hingga ikut ambil bagian pada perhelatan PON 2021 Papua. Produk mahkota khas Papua dan berbagai aksesoris jadi komoditas utama yang dijual oleh wanita yang akrab dipanggil “Mama” ini.

Usaha kerajinan lokalnya tersebut memanfaatkan berbagai benda di sekitar lingkungannya, pesisir Pantai Ciberry, Jayapura Selatan.

“Awalnya hanya coba-coba buat kerajinan gantungan dari buah pohon yang biasa jatuh di pantai,” ungkap Petronela.

Berkat kejelian dan konsistensinya dalam mencipta berbagai kerajinan tersebut, Petronela pun mengambil langkah besar: memproduksi mahkota khas Papua dan aksesori untuk dijual ke khalayak.

Hasilnya pun tak mengecewakan. Ia berhasil mengembangkan usahanya dan sudah memiliki tempat produksinya secara mandiri, setelah sebelumnya hanya berjualan lewat usaha rumahan.

Ditanya soal inspirasinya dalam merintis usaha kerajinan lokal Papua, Petronela mengatakan, ia hanya secara otodidak mengikuti tutorial dari Youtube, dan mencoba membuatnya.

“Saya rasa penasaran saja, terus coba lihat cara pembuatan kerajinan di Youtube, setelah itu baru mulai belajar,” ujarnya.

Kisah yang sama dialami oleh Alberthus Wanggai, penjual ikan Asar di Pasar Sentral Hamadi Distrik Jayapura Selatan. 

Konsistensinya menjajakan produk ikan Asar, salah satu olahan laut khas Papua, mengantar ia jadi penjual ikan yang sukses dan tersohor di Pasar Sentral Hamadi.

Jadi agen bank dan bantu masyarakat sekitar

Meski Petronela dan Alberthus sudah sukses mengembangkan usahanya, para pelaku UMKM lokal itu tak tertutup dengan potensi lainnya. Keduanya menyambut baik berbagai kesempatan yang datang.

Seperti Alberthus yang menyambut baik pihak BRI yang menilainya berpotensi menjadi AgenBRILink.

“Saya menyambut baik niat baik BRI, untuk bisa menjadikan saya sebagai AgenBRILink. Saya harap dengan menjadi AgenBRILink, dapat mempermudah saya dalam berjualan Ikan Asar,” cerita Petronela.

Ia juga menyampaikan, BRILink memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, yaitu dengan memberikan kemudahan bagi pembeli yang tidak memiliki uang tunai

Dengan begitu, para pembeli dapat melakukan pembayaran melalui BRILink sebagai solusi untuk tetap bisa membeli dan menikmati ikan Asar.

Serupa dengan Alberthus, Mama Petronela juga ditawari untuk menjadi AgenBRILink. Tanpa berpikir panjang ia pun tertarik untuk mengikuti program tersebut. Ia optimistis BRILink dapat jadi sumber penghasilan tambahan baginya.

“Awalnya mama masih ragu, untuk menerima BRILink, tapi setelah sosialisasi dan berikan informasi dari pihak BRILink, maka saya jadi mengerti, dan paham,”ujarnya.

Petronela  berterima kasih kepada pihak BRI yang telah memberinya kepercayaan menjadi AgenBRILink. Ia tak hanya terbantu dari segi pendapatan, tetapi juga menebar manfaat bagi sekitar. Maka itu, ia mengajak masyarakat Papua lainnya, khususnya mama-mama Papua untuk berani mengambil peluang dan jeli melihat kesempatan.

“Dengan jadi AgenBRILink, mama punya harapan itu bisa meningkatkan pendapatan sehari-hari, dan juga bantu masyarakat di kampung sini,” jelasnya.