Konflik bersenjata Papua: Kisah bocah yang jadi korban tembak, bom mortir, dan pihak ketiga

11
Konflik bersenjata Papua: Kisah bocah yang jadi korban tembak, bom mortir, dan pihak ketiga

Aksi saling serang antara aparat dan milisi yang mendambakan kemerdekaan Papua terjadi di Kampung Jogotapa, Sugapa, Intan Jaya, sejak sore. Tanggal menunjukkan 26 September 2021.

Dari segala arah, milisi TPNPB menembaki tentara dan polisi yang berada di Koramil 1705-08/Sugapa. Dengan persenjataan mereka, aparat membalas serangan itu.

Bertinus Sondegau sudah terbiasa mendengar desingan peluru dari rumahnya. Namun dia merasa ada yang berbeda dengan kontak tembak hari itu.

Bertinus dan keluarga kecilnya terjebak di antara dua pihak yang saling bertikai. Rumah mereka hanya berjarak sekitar 30 meter dari Koramil. Di dalam rumahnya, Bertinus mendengar rentetan tembakan peluru dan suara dentuman.

“Saya dengar tembakan TNI dari arah Koramil. Mereka kasih keluar semua peralatan, tembak ke kiri dan kanan, sampai tanah goyang,” kata Bertinus.

Sekitar pukul sembilan malam, salah satu peluru menembus dinding rumahnya.

Peluru itu masuk dan merobek perut putranya yang belum genap berusia dua tahun, Melpianus. Akibatnya, organ di dalam perut Melpianus tumpah keluar. Tangis pecah di rumah itu. Melpianus berhenti bernafas tak lama setelahnya.

Malam itu, anak berusia enam tahun di permukiman yang sama, Yoakim Mazau, juga tertembak. Dia mampu bertahan untuk tetap hidup.

Keesokan paginya, Bertinus berjalan kaki dan membopong jenazah anaknya ke halaman Gereja Santo Petrus Agapa. Balita itu ditutupi selimut merah. Wajah Bertinus pilu. Ia mencoba menahan tangis.

Penduduk sekitar turut mengantar Melpianus menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Pastor Yeskiel Belau memimpin ibadah pemakaman sederhana untuknya.

“Terimalah dia dan anugerahkanlah kepadanya keselamatan yang kekal,” ucap Pastor Yeskiel merapal doa di hadapan makam Melpianus.

Di samping peti jenazah mungil, Bertinus terus menunduk. Dia menopangkan wajah ke nisan berbentuk salib yang bertuliskan nama anaknya sambil terus-menerus sesenggukan.

 

Di nisan itu tertera tanggal lahir Melipanus. Selang 16 hari setelah kematiannya, Melpianus semestinya merayakan ulang tahunnya yang kedua.

 

Setelah pemakaman pagi itu, warga Supaga mulai mengungsi dari rumah-rumah mereka menuju ke sejumlah gereja.

 

Yeskiel berkata, sebagian warga secara sukarela mengungsi karena takut menjadi korban kontak tembak. Namun ada pula yang datang ke gereja setelah mendengar anjuran aparat dan milisi TPNPB. Mereka diminta keluar dari permukiman karena aksi saling tembak masih akan terus terjadi di Sugapa.

 

Tiga hari setelah kematian Melpianus, situasi belum mereda. Sore itu sekelompok orang yang diduga milisi TPNPB membakar sejumlah rumah di sekitar Bandara Sokopaki. Peristiwa itu kembali memicu kontak tembak.

 

Orang-orang yang bekerja di sekitar bandara lari menyelamatkan diri. Namun enam orang terjebak di salah satu rumah di dekat lapangan terbang itu.

 

Keluarga salah satu dari mereka menelepon pengurus Gereja Santo Michael. Dia berkabar, saudaranya tak berani keluar karena kontak tembak terjadi di sekitar bandara.

 

Pastor Yance Yogi dan Pastor Fransiskus Sondegau serta beberapa orang lain lalu bergegas menuju bandara. Gereja dan bandara berjarak 500 meter.

 

Setibanya di sana, Yance naik ke atas pagar. Dia meminta enam orang itu memberanikan diri untuk keluar rumah.

 

Kontak tembak masih masih terus berlangsung saat itu. Fransiskus berdiri di belakang Yance. Dia mengangkat salib ke udara dengan harapan tak ada peluru yang menyasar ke mereka.

 

Pada saat yang sama, masyarakat berlarian menuju Gereja Santo Michael. Pastor Yeskiel dan rekan-rekannya meminta warga berlindung di dalam gereja.

 

Aksi saling tembak belum surut ketika sebuah peluru tiba-tiba melesat beberapa sentimeter ke samping tubuh Pastor Yeskiel. Tiga hari setelah memakamkan Melpianus, Yeskiel nyaris menjadi korban berikutnya.

 

“Saya langsung lari ke belakang tiang di depan gereja. Peluru itu pecahkan tembok,” kata Yeskiel.

 

Sejak pertempuran antara aparat dan TPNPB menewaskan Melpianus, Sugapa senyap. Rumah-rumah kosong. Masyarakat mengungsi ke gereja, Koramil dan juga kantor polisi. Banyak kios tutup.

 

Bertinus bertahan di gereja usai pemakaman itu. “Sampai saat ini tidak ada pihak yang datang untuk bertanya atau meminta maaf,” kata Bertinus.

 

Perbincangan kami dengan Bertinus, awal November lalu, sempat berhenti sejenak. Dari dalam gereja terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Semua orang di dalam gereja diingatkan untuk waspada.

 

Situasi di Sugapa beberapa pekan sebelumnya tidak seperti ini. Awal Oktober lalu ribuan umat katolik dari berbagai kampung berbondong-bondong berjalan kaki ke ibu kota kabupaten itu. Perayaan besar digelar menyambut penahbisan tiga imam baru di Gereja Santo Michael.

 

Yeskiel dan Fransiskus adalah dua dari tiga pastor yang ditahbiskan pada 12 Oktober. Pada hari-hari itu, Sugapa penuh sesak. Ribuan orang mengikuti pawai.

 

Sebagian dari mereka mengenakan koteka dan rok rumbai. Suasana riuh rendah. Anak-anak dan orang dewasa berbaur. Mereka menyanyikan beragam lagu. Prosesi bakar batu dirayakan.

 

Yeskiel tidak mengira situasi gegap gempita itu bakal segera sirna. Di tengah kondisi mencekam, awal November lalu Yeskiel tetap harus melakukan perjalanan ke Distrik Homeo, Kabupaten Paniai. Keuskupan Timika menugaskannya menjadi imam di sana.

 

“Saya dan rombongan ke Paniai naik mobil. Kami bisa jalan setelah izin dari Bupati disampaikan ke Kapolres dan Danramil. Di pos tentara, tas kami diperiksa. Setelah dianggap aman, baru kami diizinkan lewat,” kata Yeskiel.

 

“Saat kami lewat, saya lihat tentara membawa tiga pemuda. Saya lihat ada busur dan anak panah. Saya tidak tahu pemuda itu ditangkap atau pengungsi.

 

“Sepanjang perjalanan sepi sekali. Kami sempat cari solar tapi semua kios tutup. Saya harus ketuk pintu kios, katakan bahwa saya pastor, baru mereka membuka pintu,” ujarnya.

 

Saat Yeskiel meninggalkan Sugapa, warga lokal bernama Mina tetap bertahan di pengungsian yang dikoordinasikan pihak gereja.

 

Mina adalah satu dari ratusan atau mungkin ribuan warga Sugapa yang mengungsi sejak kontak tembak akhir Oktober lalu.

 

Setiap pihak di Intan Jaya menyebut angka yang berbeda terkait pengungsi. Rentangnya dari ratusan hingga ribuan orang. BBC News Indonesia tidak bisa memverifikasi secara langsung kebenaran beragam angka itu.

 

“Kami hidup dalam ketakutan. Kami juga trauma karena kontak tembak ini terjadi di dekat rumah kami,” ujar Mina.

 

Ini bukanlah pengalaman pertama Mina dan keluarga tidur di tenda pengungsian. Awal Februari lalu, mereka juga meninggalkan rumah atas alasannya yang sama.

 

Walau sebagian warga menanggap gereja adalah tempat mengungsi yang paling aman dan nyaman, tenda-tenda yang didirikan di lokasi itu tidak layak huni, apalagi untuk menampung begitu banyak orang.

 

Pengungsian itu beratap terpal dan beralaskan alang-alang. Tempat ini diutamakan untuk anak dan perempuan. Namun mereka kerap harus saling bergantian mengisi ruang.

 

Di pengungsian, kelangsungan hidup Mina dan keluarganya juga bergantung pada bantuan. Jika tak ada sumbangan makanan, mereka harus menahan rasa lapar.

 

“Kami tidak bisa ambil bahan makanan ke kebun karena kebun letaknya di antara gunung. Setiap gunung dikuasai aparat dan TPNPB,” kata Mina.

 

Pengungsi lainnya, seorang laki-laki paruh baya bernama Mepa, menyebut aksi saling serang antara aparat dan TPNPB tidak pernah separah ini.

 

Tidak hanya berlangsung selama belasan hari, lokasi pertempuran juga sudah bergeser dari hutan ke sekitar permukiman warga.

 

Begitu aksi saling serang terjadi pada 26 September lalu, aktivitas Sugapa berhenti, termasuk penerbangan yang merupakan penghubung Sugapa dengan kota-kota besar lain di Papua.

 

“Yang kami rasakan adalah penderitaan di atas penderitaan. Anak kecil trauma karena kontak tembak bahkan terjadi di sekitar halaman gereja,” ujarnya.

 

Saat liputan ini disusun, warga sipil kembali menjadi korban kontak tembak antara aparat dan TPNPB di Sugapa. Pada 9 November, perempuan bernama Agustina tertembak di bagian pinggang. 

 

Polisi membuat klaim bahwa peluru itu tanpa sengaja mengarah ke perempuan berusia sekitar 20-an tahun tersebut. Agustina dituduh berada di lokasi kontak tembak antara aparat dan TPNPB.

 

Namun sejumlah pihak di Intan Jaya menyebut hal yang berlawanan, bahwa tak ada peristiwa saling tembak saat peluru masuk ke tubuh Agustina.

 

Setelah tertembak, sejumlah warga lokal bersama pengurus gereja menyelamatkan Agustina. Tubuhnya dibopong di atas tandu kayu sederhana dari pinggir Kali Dogabu, melewati perbukitan, menuju puskesmas.

 

Keesokan harinya Agustina diterbangkan ke Rumah Sakit Mimika oleh aparat dan pemerintah lokal.

 

Pada hari yang sama, pemerintah lokal dan pimpinan kepolisian serta militer mengabarkan kepada pihak gereja bahwa masyarakat bisa kembali ke rumah. Namun tidak semua warga langsung meninggalkan pengungsian.

 

Meski begitu, Kepala Polres Intan Jaya, Ajun Komisaris Besar Sandi Sultan meminta BBC News Indonesia tidak menggunakan istilah ‘mengungsi’ untuk mendeskripsikan rentetan peristiwa ini.

 

Sandi juga mengatakan hal yang sama saat warga sipil berbondong-bondong menuju gereja saat eskalasi kontak tembak di Intan Jaya meningkat, Februari lalu.

 

“Mereka tidak mengungsi, tapi menyelamatkan diri,” ujar Sandi.

 

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata ‘mengungsi’ bermakna menyelamatkan diri ke tempat yang dirasa aman.

 

Bagaimanapun, pertanyaan utama yang muncul dalam hari-hari terakhir, apakah saat ini warga sipil sudah terbebas dari potensi tertembak atau menjadi korban berikutnya dari konflik bersenjata di Intan Jaya?

 

Dan bagaimana aparat membedakan siapa kombatan dan siapa warga sipil?

 

“Mereka yang membawa senjata adalah musuh, yang tidak membawa senjata berarti masyarakat,” kata Kepala Polres Intan Jaya, Ajun Komisaris Besar Sandi Sultan.

 

Saat Melpianus tertembak, tak ada satupun anggota keluarganya yang menyimpan senjata. Agustina Ondou juga tak memiliki senjata. Begitu pula Pastor Yeskiel yang nyaris tertembak di halaman gereja.