KemdikbudristeK: Sekolah yang Melaksanakan PTM Hanya 4%

3

PAPUADAILY –Sejak pemberlakuan PPKM, jumlah sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) menurun drastis menjadi hanya sekitar 4% dari sebelumnya 35%. Terkait hal itu, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Jumeri, mengatakan opsi PTM memang tidak bersifat kaku namun mengikuti perkembangan situasi Covid-19 di daerah.

“Ada 35% sekolah yang sudah PTM itu sebelum PPKM Mikro dan PPKM Darurat ini. Kalau sekarang 4% yang PTM. Jadi situasinya sangat berubah,” kata Jumeri dalam Dialog Produktif Kabar Kamis bertajuk “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, Kamis (22/7/2021).

Berdasarkan data di situs Kesiapan Belajar Kemdikbudristek, jumlah satuan pendidikan atau sekolah di Indonesia sekitar 536.000. Artinya, 4% sekolah yang melaksanakan PTM sebanyak 21.440 sekolah.

Jumeri menjelaskan SKB 4 Menteri yang mewajibkan sekolah agar membuka opsi PTM tetap mengikuti ketentuan dari Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) tentang pemberlakuan PPKM. Kemdikbudristek, ujarnya, menyesuaikan aturan tersebut bahwa anak-anak sementara melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kemdikbudristek menyesuaikan Inmendagri bahwa sekolah di Jawa dan Bali sementara tidak bisa PTM. Nanti setelah PPKM Darurat dicabut, kita berharap anak-anak bisa segera belajar kembali,” katanya.

Jumeri mengakui kesehatan tetap menjadi prioritas utama, namun hak-hak belajar anak di masa depan juga harus mendapatkan prioritas.

“Kita berusaha secepat mungkin, setelah situasi reda bisa segera PTM,” katanya.

Jumeri mengatakan situasi pembelajaran daring atau PJJ telah memicu kesenjangan antara siswa yang memiliki akses dan fasilitas dengan siswa yang berada di daerah dengan keterbaasan akses dan fasilitas. Berdasarkan kajian Kemdikbudristek, 30% siswa yang bisa melakukan PJJ sedangkan sisanya mengalami hambatan.

“Kesenjangan pembelajaran daring antar daerah, kota dengan desa terluar dan terdepan, gap sangat nyata. Kalau kita terus menerus mempertahankan PJJ nanti kelompok masyarakat yang memiliki perangkat dan akses itu saja yang memperoleh kesempatan belajar yang baik,” ujar Jumeri.