Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dimulai

5
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dimulai

Puluhan perempuan berkumpul dan mengikuti ibadah bersama untuk merayakan hari Persekutuan Perempuan Gereja di Asia dan mengawali kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau 16HAKtP di Kota Jayapura, Kamis (25/11/2021). Ibadah itu mengusung dua tema sebagai permenungan para pesertanya, yaitu “Perempuan Papua, Militerisme dan Investasi” dan “Berani Membangun Kembali Rumah Tuhan.” Doa bersama itu digelar di Gedung Graha Sara, Kota Jayapura. Para peserta ibadah merayakan hari Persekutuan Perempuan Gereja di Asia atau Asian Churchill Women’s Conference yang jatuh pada 15 November lalu. Sekretaris Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Daniel Kaigere dalam sambutannya berpesan, untuk mengurangi dan menghentikan kekerasan dari muka bumi bisa dimulai dari diri sendiri di dalam keluarga, lingkungan terdekat baru ke lingkungan lebih luas. Hal tersebut dapat dimulai dengan membangun mezbah persekutuan dalam keluarga dan mezbah persekutuan bangsa-bangsa.

“Kita bersyukur bahwa rencana ibadah hari doa wanita Asia dan juga hari doa anti kekerasan [terhadap perempuan] boleh terselenggara pada hari [Kamis] dengan tema ‘Berani Membangun Kembali Rumah Tuhan’ [dan ‘Perempuan Papua, Militerisme dan Investasi’],” kata Pdt Daniel Kaigere, Kamis. Dalam konteks membangun kembali rumah Tuhan, Pdt Kaigere menekankan pada dua pemahaman penting. “Pertama, membangun kembali rumah Tuhan. Artinya menurut konteks Nehemia tadi, bagaimana kita berupaya membangun kembali mezbah bagi bangsa, bagi bangsa Indonesia, bagi bangsa Papua dan bagi seluruh bangsa-bangsa di dunia ini. Arti yang kedua, membangun mezbah rumah keluarga … Rumah itu sesunggunya diarahkan kepada persekutuan, atau rumah tangga, atau keluarga,” ujarnya. Dengan mengutip bacaan dalam Alkitab, Pdt Kaigere mengatakan, dalam konteks membangun mezbah tadi haruslah dimulai dari lingkup terkecil, baru melangkah ke lingkup besar. “Jadi, Mazmur ini sesungguhnya, dia berbicara tentang pertama-tama pembangunan keluarga, rumah tangga, barulah ke pembangunan kota dan seterusnya,” katanya.

Dalam rangka kampanye 16HAKtP, Pdt Daniel Koiger dalam sambutannya berpesan kepada semua pihak, terutama setiap yayasan dan struktural gereja di bawah Sinode GKI, untuk menciptakan dan mengembangkan program berkaitan dengan pendidikan. Pasalnya, ia menilai kekerasan terhadap perempuam itu diakibatkan karena kurangnya pendidikan. Menurutnya, melalui pendidikan, baik formal maupun nonformal, dapat berperan dalam mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan.  “Ini memang sudah dilakukan sejak sekolah atau lembaga ini berdiri di dalam GKI. Tapi memang ini kerinduan kita yang harus terus kita lakukan dengan berbagai cara sesuai perkembangan sekarang,” pesannya. Pdt Koiger mengatakan, ketika anak-anak kurang pendidikan, kurang keterampilan, hal itu akan membuatnya merasa kurang percaya diri dan memandang temannya sebagai saingan atau musuh. Ia menekankan gereja harus mendorong model pendidikan yang bertitik berat kepada kecakapan, dengan memastikan model pendidikan itu berbiaya rendah.

 

“Karena dia tidak mampu lakukan apa yang temannya buat, mengakibatkan dia melakukaan tindakan kekerasan. Jadi, mungkin kampanye itu juga yang harus kita buat bagaimana menciptakan model pendidikan yang lebih [mengutamakan] kecakapan. [Uapaya itu jangan] membutuhkan biaya besar, sebab [biaya besar] salah satu faktor penghambat anak-anak kita tidak bisa selesaikan pendidikan,” pesannya. Usai ibadah, Staf KPKC Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Magdalena Kafiar menjelaskan kampanye 16 HAKtP dilakukan dengan berbagi informasi tentang sejarah lahirnya kampanye 16HAKtP yang merupakan gerakan global. Ia menekankan kampanye 16HAKtP penting menjadi perhatian setiap orang di Tanah Papua.

“Kampanye ini juga penting untuk kita di Papua, karena kekerasan itu nyata, masih terus terjadi di Tanah Papua. Tidak hanya kekerasan di dalam rumah tangga, tempat kerja, tapi yang parah kekerasan karena dilakukan oleh negara,” kata Pdt Magda. Ia mencontohkan kasus pengungsian yang masih terjadi hingga hari ini di beberapa kabupaten seperti Nduga, Puncak, Intan Jaya, hingga Maybrat. Pendeta Magda berharap kampanye 16HAKtP yang akan berlangsung hingga 10 Desember nanti dapat menarik perhatian para pihak, terutama pemerintah, untuk mengambil keputusan yang dapat melindungi hak-hak para pengungsi di mana-mana. “Doa kami yang paling sederhana saat ini, kita berharap mama-mama, anak-anak, orang tua lanjut usia, semua orang sipil di daerah konflik bisa tidur dengan tenang, bisa ke kebun dengan tenang, tidak takut dan bisa pulang ke rumahnya, beraktifitas seperti biasa lagi,” harapnya.