Jangan Panik, Suplai Obat dan Alat Kesehatan Segera Kembali Normal

2

PAPUADAILY –Untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia, pemerintah bersama industri farmasi dan pelaku usaha tengah mempercepat penyediaan importasi dan produksi terutama pendistribusian obat serta alat kesehatan (alkes). Ketua Bidang Industri Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia, Roy Lembong menyatakan kolaborasi ini merupakan reaksi cepat dalam memenuhi ketersediaan obat dan alkes untuk kebutuhan masyarakat di masa pandemi ini.

“Jadi dalam beberapa hari atau minggu ke depan, suplai atau pasokan obat sudah diupayakan tersedia agar masyarakat bisa kembali menggunakan obat, suplemen dan alkes, jadi tak usah panik,” katanya dalam diskusi virtual bertajuk “Kemandirian Pemenuhan Obat dan Alat Kesehatan di Indonesia”, Selasa (6/7/2021).

Menurutnya, memang ada banyak obat dibutuhkan dalam penanganan Covid-19 dan hal ini sudah diumumkan pihak Kementerian Kesehatan (Kemkes). Setiap produk tentunya memiliki masalah tersendiri. Maka dari itu diperlukannya kolaborasi satu sama lain.

“Sejak Mei-Juni 2021 ini, baik pelaku usaha farmasi, BUMN, swasta, dan pemerintah proaktif sediakan suplemen serta obat agar tersedia cukup dan didistribusikan dengan baik, sehingga tak perlu panic buying meski terjadi banyak permintaan,” ucap dia.

Menurutnya sejak Juni 2020 hingga Juni 2021 meski kasus Covid-19 terus meningkat, pihak farmasi masih sanggup memenuhi stok vitamin, obat, dan alkes yang diperlukan. Namun memang pada di akhir Juni 2021 terjadi lonjakan kasus baru hingga 5 kali lipat. Maka semua pihak tengah mempercepat penyediaan berbagai kebutuhan penanganan Covid-19 ini.

Kejadian saat ini sebenarnya sama hal dengan tahun lalu pada awal pandemi Covid-19. Banyak pihak menyerbu vitamin, suplemen, dan masker. Hanya butuh beberapa saat atau minggu, semua pun bisa kembali normal.

Ia pun meyakini bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, suplai obat dan alkes akan kembali normal kembali karena pemerintah dan GP Farmasi bergerak cepat untuk membantu ketersediaannya. Jadi ia pun meminta masyarakat tak perlu panik karena hal ini sudah terbukti di tahun lalu, pemerintah bersama pihak swasta mampu mengatasinya.

Terkait adanya perubahan harga obat di beberapa apotek atau penjual obat lainnya, diakui memang ada beberapa pihak yang memanfaatkan kesempatan. Misalnya saja, mereka membeli lalu menjualnya kembali. Hal ini seolah terjadi lonjakan harga dan berbeda nilainya dari yang tertera di dalam boks obat tersebut.

“Tapi itu saya hanyalah sebagian kecil saja, karena ada 11.000 apotek di Tanah Air yang berizin dan taat aturan dengan menjual obat sesuai harga kemasan boks yang telah ditetapkan BPOM dan Kemkes. Makanya kami juga minta masyarakat memonitor harga obat, bahwa harga tercantum di dalam boks dan itu sudah ada Permenkes-nya bahwa pada setiap kemasan obat tercantum harga eceran tertinggi,” jelasnya.

Roy juga mengakui sebagian besar bahan baku obat yang diproduksi di Indonesia, masih diimpor dari pasokan luar negeri. Namun saat ini sudah ada upaya kolaborasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan mencari cara bahan baku agar bisa diproduksi dalam negeri.