Empat Anak Papua di Jogya Rintis Usaha Tas Perpaduan Noken dan tas Moderen

1107

PAPUADAILY –Empat anak muda Papua di Yogyakarta, Jawa Tengah membentuk Olethea  (pemberian dari Tuhan-Yunani), usaha perpaduan noken Papua dan tas modern. Mereka adalah Claudia Aprilia Pepiana, Maria Ina Saren, Bella Batosau, dan Mauren Mansnembra.

Usaha perpaduan noken dan tas mederen ini dibentuk dengan visi menjadikan produk Olethea yang unggul dan modern, namun tetap melestarikan nilai kearifan lokal Papua. Terutama noken Papua yang telah go Internasional (UNESCO).

Ide membentuk usaha terebut berawal dari tugas akhir Claudia Aprilia Pepiana di kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada 2020.

Maria Ina Saren adalah satu rekan kerja Claudia yang ditemui suarapapua.com di Jayapura, Rabu (28/6/2021) menceritakan awal mula membentuk Olethea.

Awalnya kata Ina, sapaan akrab Maria Saren, mahasiswa di kampus UKDW Yogyakarta menyukai dan menerima desain noken Claudia. Akhirnya, setelah berjalannya waktu, Claudia bersama tiga rekan lainnya yang bersama-sama berstudi di UKDW Yogyakarta membentuk Olethea dan memulai bisnisnya dengan tetap menunjukkan nilai kearifan lokal, Noken Papua.

“Kebetulan kita empat orang saling baru kenal, jadi kita sama-sama dan Cludia ajak bekerjasama memulai bisnis perpaduan noken asli dan tas moderen ini. Kita semua mengambil bagian dalam memulai bisnis ini. Kami awalnya ada 5 orang, tetapi sekarang 4 orang, dimana Claudia sebagai owner, saya marketing dan public relation, Bella Batosau finance, dan Mauren Mansnembra bertanggungjawab di logistik,” ujar Ina.

Seteah itu, pihaknya mulai menari pengrajin noken di Jayapura, terutama mama-mama Papua yang merajut noken Papua. Walaupun kami beberapa bukan orang asli Papua, namun kami tidak mau hanya sekedar menikmati hasil sumber daya alam Papua, tetapi kami mau mengelolanya menjadi sesuatu yang bisa dikembangkan dan dikenal oleh banyak orang,” paparnya.

Motivasi mencari mama-mama Papua untuk menjadi pengrajin di Olethea, kata Ina, agar dapat membantu perekonomian mereka di Jayapura, tetapi juga untuk tetap menjaga kualitas noken yang dihasilkannya.

“Setelah kita cari, kita dapat mama Wantik yang bersedia untuk membantu kami. Kebetulan mama Wantik hanya ibu rumah tangga. Memang ada biaya untuk pengrajin noken ini. Orang sering anggap kami mempunya produk yang mahal, padahal mereka tidak tahu kita bayar pengrajin lokal untuk setiap perlembar noken yang di buat. Kita juga tidak mau menurunkan standar dari kualitas noken pengrajin lokal, maupun menurunkan harga untuk penjualan, karena kita mau membantu perekonomian keluarga mereka,” jelannya.

Semua ini dilakukan, katanya, hanya ingin mengembangkan noken itu lebih moderen, terutama tidak menghilangkan kearifan lokal.

Untuk produksinya, kata Ina, fokusnya di Badnung, Jawa Barat, tetapi nokennya benar-benar anyaman lokal dari mama-mama Jayapura. Namun demikain, kedepan pihaknya berharap agar di produksi di Jayapura, sayangnya biaya produksi di Jayaapura cukup mahal yang akan mempengruhi harga jual.

“Desain-desainnya dilakukan oleh Claudia. Dia banyak mendisain bentuk tas dengan perpaduan noken yang juga siap diproduksi ke depan dan dipasarkan. Pertama kita membuat tas waist bag (tas pinggang) dan sling bag (tas selempang). Memang ada juga ransel, tetapi tidak banyak seperti waist bag, karena benang yang kita pakai berbeda dan harga untuk tas ransel cukup mahal,” paparnya.

Setelah berdiri kata Ina, Olethea sudah mencapai satu tahun (2020 -2021). “Selama satu tahun ini, kita telah produksi sebanayak 200 pieces. Selain itu kami juga produksi sling bang. Pasarannya sendiri ke semua gender, mulai anak muda sampai di kalangan orang tua.”

Sejauh ini, katanya, pihaknya menjual hasil produksinya masih offline, tetapi memiliki akun instagram @sa.olethea untuk promosi. Mereka sudah memasarkan hingga ke luar Papua, seperti NTT, Ambon, Sulawesi, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia.

“Kami awalnya fokus hanya di Papua, ternyata puji Tuhan, banyak yang pesan dari luar Papua. Jika ada yang pesan dari luar papua kami kirim dari Bandung, sementara yang di Papua kami pasarkan dari Jayapura.”

Sejak Olethea berdiri hingga saat ini, hasil penjualannya walaupun tidak banyak tetapi cukup membantu untuk produksi selanjutnya.

Ke depan kata Ina, pihaknya memiliki target untuk mecari lebihh banyak pengrajin lokal agar produksi bisa lebih ditingkatkan. Selain itu ia berharap agar ada dukungan dari investor dalam mengembangkan Olethea ke depan.

Ia juga mengakui bahwa untuk saat ini pihaknya telah bergabung dengan Papua Local market. Selain itu pihaknya berharap agar bergabung dengan panitia PON 2021 untuk mempromosikan produk Olethea.

“Jika kita bergabung dengan panitia PON, dan mendapatkan satu  stand, maka kita berencana produksi 100 pieces. karena pasti banyak orang dari luar Papua yang datang dan bisa menjadikan oleh-oleh untuk balik ke daerah mereka. Tetapi selain itu, kita juga ingin mempunya offline store di Jayapura maupun di luar Jayapura biar semakin di kenal,” paparnya.

“Kami di tim Olethea tidak ingin hanya menikmati hasil alam Papua, namun juga ingin mengembangkan yang sudah ada di tanah Papua, kami juga ingin membuat noken yang lebih moderen ini agar tidak hanya sekedar jadi hiasan, namun juga di pakai.”

Selain itu, pihaknya berharap agar produk mereka semakin berkembang dan akhirnya bisa banyak pengrajin lokal yang bisa dipekerjakan. Terutama dengan produksi ini, banyak anak-anak Papua sadar menggunakan noken tanpa malu.