Di Masa PPKM Darurat, Pengusaha Minta Mal Tak Perlu Tutup Total

0

PAPUADAILY –Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta jam operasional sektor ritel modern dan mal tetap normal di masa PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021. Mengingat kedua bisnis tersebut sebagai sektor esensial yang menyediakan kebutuhan pokok dan sehari-hari yang amat dibutuhkan masyarakat dalam berbagai situasi.

“Di kala apapun situasinya, masyarakat tetap akan memenuhi kebutuhan pokok dan sehari-harinya yang tidak mungkin dihilangkan maupun ditunda,” ungkap Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey dalam keterangan resmi kepada Merdeka.com, Kamis (1/7/2021).

Padahal, kata Roy, ritel dan pusat perbelanjaan telah memiliki fasilitas protokol kesehatan yang memadai dan dikelola secara profesional. Sehingga, kedua sektor tersebut diyakini bukan klaster pandemi Covid-19.

“Karena (ritel dan mal) tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin ketat,” ungkapnya.

Selain itu, pembatasan operasional juga akan mengakibatkan bisnis UMKM kembali terpuruk akibat turunnya penjualan. Menyusul turunnya konsumen akibat berkurangnya jam operasional ritel modern maupun mal.

“Pembatasan akan mengakibatkan melambatnya produktivitas sektor manufaktur makanan minuman serta berpotensi penutupan gerai ritel yang tak terhindarkan yang bermuara pada tergerusnya konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar (60 persen pada PDB) bagi harapan pertumbuhan ekonomi di Indonesia karena pembatasan operasional mengakibatkan mobilitas masyarakat terbatas datang ke gerai Ritel dan Mal,” imbuhnya.

Mal Ditutup Hingga 20 Juli

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pusat perbelanjaan seperti mal ditutup selama PPKM Darurat. Artinya penutupan mal berlaku hingga 20 Juli 2021. “Mal ditutup sementara, tidak ada yang dibuka sampai tanggal 20 (Juli),” kata Luhut dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (1/7/2021).

Oleh karena itu, Roy meminta pemerintah untuk mengkaji ulang atas keputusan pembatasan operasional ritel modern dan pusat perbelanjaan. Hal ini lantaran kembali terulangnya potensi penurunan bisnis kedua sektor tersebut di masa PPKM Darurat.

“Dengan memperhatikan pengalaman kita cara menghadapi dan menanggulangi Covid-19 dari tahun 2020 lalu, kiranya dapat memberikan cara pandang dan berpikir yang berarti, bahwa Covid-19 akan hidup bersama kita, hanya dengan Disiplin Kuat dalam gaya hidup (lifestyle) dan Komitmen atas Prokes 5 M sebagai adaptasi kebiasaan baru (AKB) dengan sanksi sosial & hukum yang ‘ekstrem’ tanpa kompromi dan ber-fokus pada kecepatan dan peningkatan upaya mem-‘Vaksinasi’ massal yang lebih cepat dari pergerakan fluktuasi Virus Covid-19 sekarang ini,” tandasnya.