Cegah Kematian Anak Akibat Diabetes, Program “Changing Diabetes® in Children” Diluncurkan

1

PAPUADAILY –Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, diabetes sering dilihat sebagai penyakit yang diderita oleh orang dewasa. Padahal faktanya diabetes juga dialami oleh anak-anak dan remaja.

Untuk itu Kementerian Kesehatan (Kemkes) mendorong seluruh pihak, termasuk swasta, komunitas, dan media untuk berpartisipasi dalam pencegahan dan pengendalian diabetes melitus.

“Saya juga ingin mengajak semua pihak untuk meningkatkan kerja sama dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan sehingga seluruh kebijakan dapat mendukung permasalahan tersebut,” ujar Menkes dalam peluncuran program “Changing Diabetes® in Children”, Senin (30/8/2021).

Menkes mengatakan program Changing Diabetes® in Children adalah program kemitraan antara pemerintah dan mitra swasta dalam upaya mencegah dan mengendalikan kasus diabetes di Indonesia terutama diabetes pada anak-anak.

“Pada 25 Juni 2021, Kemkes telah menandatangani kerja sama dengan PT Novo Nordisk, yang merupakan mitra strategis dari Pemerintah Denmark sebagai implementasi dari nota kesepahaman antara Indonesia dan Denmark,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Menkes menyebutkan program Changing Diabetes® in Children merupakan salah satu program kolaboratif untuk meningkatkan akses terhadap penanganan pasien dengan diabetes, terutama diabetes pada anak, melalui edukasi, pencegahan, dan kuratif.

Dengan melakukan diagnosis dan penanganan secara dini, diabetes pada anak-anak dapat dikelola dengan baik dan inilah yang menjadi tujuan ini menjadi pendorong utama dalam program kemitraan global Changing Diabetes® in Children.

“Misi utama program ini adalah mencegah kematian pada anak yang diakibatkan diabetes, dan Indonesia mengambil langkah untuk merealisasikan tujuan tersebut,” paparnya.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia HE Lars Bo Larsen menjelaskan, Indonesia dan Denmark merupakan mitra bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan penanganan diabetes sesuai dengan kebijakan dan target pemerintah serta asosiasi kesehatan di Indonesia.

“Kami meyakini bahwa Changing Diabetes® in Children tak hanya mendorong kesadaran masyarakat, tetapi juga membantu pasien mengatasi penyakit mereka, dan mengurangi risiko komplikasi serta beban pengobatan pada sistem perawatan kesehatan,” ujar Larsen.

Disebutkan dengan jaringan luas Novo Nordisk dan mitranya, serta pengalaman bertahun-tahun, komitmen, dan ambisi jangka panjang dalam memerangi diabetes, pihaknya berharap inisiatif ini akan membawa dampak positif bagi anak-anak penderita diabetes tipe-1 di Indonesia.

Menurut Larsen, Novo Nordisk Indonesia bersama mitra globalnya akan bekerja sama dengan Kemkes Indonesia dan IDAI untuk meningkatkan komponen-komponen seperti peningkatan infrastruktur kesehatan yang sudah ada, pelatihan dan pendidikan tenaga kesehatan dan pendidik diabetes. penyediaan peralatan dan perlengkapan pemantauan glukosa darah, edukasi pasien untuk anak dan keluarganya; sistem registrasi pasien; dan pemahaman dan advokasi.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Aman Bhakti Pulungan, menyampaikan pada tahun 2018, jumlah populasi anak di Indonesia diperkirakan mencapai 79 juta.

Meski demikian, IDAI mencatat hanya 1.249 anak Indonesia yang terdiagnosis dengan diabtetes melitus tipe-1 (DMT1) selama periode 2017-2019.

Penanganan diabetes tipe-1 harus komprehensif. Salah satu permasalahan yang kita hadapi terkait diabetes adalah data. Bersama dengan Novo Nordisk, kita akan membuat sistem registrasi melalui aplikasi. Aplikasi ini akan meliputi sistem registrasi, edukasi, rekomendasi pengobatan dan monitoring.

“Saya meyakini jika kita bisa membuat aplikasi yang komprehensif, Indonesia akan menjadi negara pertama yang memiliki sistem yang tepat bagi anak-anak dengan DMT1 dan membantu tiap aspek penanganannya,” ujar Aman Bhakti Pulungan.

Menurutnya, perkembangan penanganan diabetes sejak 100 tahun penemuan insulin memungkinkan anak-anak dengan DMT1 dapat hidup dengan lebih baik dan sehat.

“Sayangnya, prognosis diabetes tipe-1 hampir tidak berubah sejak ditemukannya insulin. Kenyataannya, masih banyak anak-anak yang meninggal akibat diabetes tipe-1 karena kurangnya pendidikan diabetes, layanan kesehatan khusus, peralatan untuk memantau diabetes, dan juga obat-obatannya,” katanya.