BMKG Asesmen Alat Peringatan Dini Tsunami di Pesisir Selatan Banyuwangi

5

PAPUADAILY –BMKG akan melakukan assessment 8 alat peringatan dini tsunami di pesisir laut selatan Banyuwangi. Hal Itu dilakukan menyusul 6 alat Early Warning System (EWS) rusak dan hanya 2 yang berfungsi mengeluarkan bunyi sirine. Pengecekan EWS selalu dilakukan untuk memastikan mitigasi kebencanaan selalu berjalan dengan baik.

Kepala BMKG Kelas IIA Tretes Pasuruan, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan, dua EWS masih beroperasi dengan baik. Sisanya, 6 EWS masih dalam perbaikan. Ada kerusakan kecil yang membuat EWS tak berfungsi.

“Hari Minggu kemarin kami melakukan asesmen terhadap alat EWS yang kurang begitu baik tersebut,” katanya kepada detikcom, Jumat (3/9/2021).

6 EWS yang masih bermasalah, kata Djati, berada di beberapa titik. Di antaranya pesisir Pantai Gerajagan, Rajegwesi, Kampung Mandar, Blimbingsari. Keenamnya bukan tidak berfungsi sama sekali. Melainkan sistemnya yang bermasalah.

“Jadi bukan tahun 2019 ya, kami revisi. Tapi 2020. Karena tahun 2020 akhir kami melakukan instalasi peralatan rekayasa sirine tsunami dan inovasi rekayasa masih dalam upgrade. Kategori rusak itu bukan fatal, hanya saja ada sistem yang bermasalah,” terangnya.

“Saat ini kami sedang menunggu suku cadang yang akan dikirim dari Jakarta dan beberapa kota besar lainnya,” tambahnya.

Dikatakan Djati, 2 alat EWS yang berfungsi maksimal berada di wilayah Muncar dan Pancer. Alat sirine tsunami itu model sircom dan rekayasa. Pada saat aktivasi tanggal 26 Agustus 2021 lalu yang berbunyi adalah model Sircom yang terpasang pada tahun 2015-2016.

“Sedangkan yang model rekayasa yang dipasang di akhir tahun 2020, ada beberapa kendala pada sistemnya. Sehingga tidak berfungsi dan pada saat dicoba teman-teman BPBD Banyuwangi,” ungkap Djati.

BMKG juga mengenalkan aplikasi Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert (SIRITA). Aplikasi SIRITA adalah aplikasi berbasis android yang akan memberikan peringatan jika terjadi bencana gempa maupun tsunami. Aplikasi ini juga akan memberikan infomasi dari BPBD Banyuwangi kepada masyarakat mengenai panduan evakuasi mandiri saat terjadi bencana.

“Kami sudah mengenalkan kepada Ibu Bupati dan BPBD Banyuwangi. Diharapkan dengan ini bisa meminimalisir korban jika terjadi gempa dan tsunami,” jelas Djati.

Djati juga mengapresiasi langkah BPBD Banyuwangi yang terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi bencana alam khususnya penanganan gempa bumi dan tsunami.

“Kami apresiasi, makanya tujuan kami kapan hari bertemu dengan Bupati Banyuwangi untuk audensi dan verifikasi terkait daerah-daerah tempat evakuasi akhir,” terang Djati.

Menurut BMKG, radius beberapa kilometer dari laut di wilayah Muncar dan Pancer masih ada potensi dampak tsunami karena daratnya flat. Sehingga perlu adanya escape holding buatan agar dampaknya tidak sampai besar.

“Itu karena semakin banyak kebutuhan dan adanya potensi gempa bumi dan tsunami yang cukup besar di kawasan Banyuwangi,” tandas Kepala BMKG Tretes Pasuruan, Djati Cipto Kuncoro.

Pemkab Banyuwangi melakukan ujicoba 8 alat peringatan dini tsunami di pesisir laut selatan. Hasilnya, 6 alat EWS rusak dan hanya 2 yang berfungsi dengan bunyi sirine. Rusaknya sejumlah alat peringatan tsunami dini di pesisir Selatan Banyuwangi tersebut sudah lama berlangsung.

Pihak BPBD Banyuwangi sendiri tidak memiliki wewenang untuk memperbaiki, karena EWS milik BMKG. Selain EWS, BPBD juga telah memasang rambu-rambu jalur evakuasi dan menyiapkan tempat aman dari tsunami. Diantaranya yang sudah siap yakni di desa Sarongan, terutama Rajegwesi. Desa Sumberagung di Pancer, Desa Pesanggaran di Lampon dan Desa di Grajagan.